
Sampah plastik merupakan salah satu permasalahan lingkungan karena membutuhkan waktu lama untuk terurai, meskipun memiliki keunggulan seperti ringan, kuat, fleksibel, tahan air, dan ekonomis, penggunaan plastik yang tinggi dapat menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik, pembakaran plastik secara langsung juga dapat menghasilkan polutan berbahaya seperti CO dan CO₂. Salah satu alternatif pengelolaan sampah plastik adalah pirolisis, yaitu proses pemanasan plastik pada kondisi minim oksigen untuk memutus rantai hidrokarbon sehingga menghasilkan solar, plastik seperti PE, PP, dan PS memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan bakar cair. Dalam kegiatan ini digunakan HDPE, LDPE, dan PP karena ketiganya memiliki kandungan hidrokarbon dan berpotensi menghasilkan solar pirolisis yang dapat dikaji sebagai bahan bakar.
Sebagai bentuk edukasi dan praktik pengelolaan sampah anorganik, KKN UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto Kelompok 130 melaksanakan kegiatan “Pengelolaan Sampah Anorganik: Sampah Plastik Menjadi Solar (PETASOL)”. Kegiatan dilaksanakan di Dusun Sidahurip pada 18 Agustus 2026 pukul 09.00 WIB bersama pengurus TPS dan di Dusun Karangkamulyan pada 19 Agustus 2026 pukul 10.00 WIB bersama warga RW 02 dan RT 07, Desa Cintakarya. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pemilahan sampah sekaligus memperkenalkan pemanfaatan sampah plastik melalui proses pirolisis menjadi solar yang berpotensi digunakan sebagai bahan bakar (solar).
1. Alat dan bahan penelitian
Bahan-bahan yang di perlukan dalam penelitian ini adalah:
a. Jenis sampah plastik

Sampah plastik merupakan salah satu jenis sampah yang memberikan ancaman serius terhadap lingkungan karena selain jumlahnya cenderung semakin besar, kantong plastik adalah jenis sampah yang sulit terurai oleh proses alam (non biodegradable) dan merupakan salah satu pencemar xenobiotik. Gambar menunjukkan jenis plastik berdasarkan kode daur ulang, yaitu PET (1), HDPE (2), PVC (3), LDPE (4), PP (5), dan PS (6) beserta contoh dan waktu terurainya. Dalam kegiatan PETASOL, plastik yang digunakan adalah HDPE, LDPE, dan PP karena berpotensi diolah melalui proses pirolisis menjadi solar hasil pirolisis sebagai bahan bakar alternatif, PVC tidak dianjurkan karena dapat menghasilkan gas berbahaya saat dipanaskan.
b. Alat pirolisis

Berdasarkan hasil pengamatan, penggunaan 0,2 kg plastik dengan tambahan 110 ml solar jelantah membutuhkan waktu sekitar 30 menit dan menghasilkan 10 ml solar. Penambahan minyak jelantah membantu mempercepat proses pemanasan dan penguapan sehingga solar lebih cepat terbentuk. Hasil uji pembakaran menunjukkan api dapat bertahan lebih lama dan penguapan berlangsung lebih cepat. Pirolisis 0,2 kg plastik tanpa tambahan minyak jelantah membutuhkan waktu sekitar 60 menit dan menghasilkan sekitar 9 ml solar. Hasil pembakaran menunjukkan api lebih cepat padam dan penguapan relatif lebih lambat. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penambahan minyak jelantah dapat membantu mempercepat proses pirolisis dan meningkatkan hasil solar, meskipun karakteristik minyak yang dihasilkan tetap perlu diuji lebih lanjut untuk mengetahui kualitas dan potensinya sebagai bahan bakar alternatif.
Materi ini terinspirasi dari inovasi pengolahan sampah plastik yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pemerintah Kabupaten Banjarnegara dan Bank Sampah Banjarnegara. Kolaborasi tersebut menghasilkan PETASOL atau Pengolahan Sampah Plastik Menjadi Solar dengan teknologi Fast Pyrolysis (FASPOL), yang mulai dirintis sejak 2022 dan resmi dipublikasikan luas pada 2024-2025 setelah lolos uji kualitas bahan bakar oleh BRIN dan Lemigas. Inovasi ini jadi salah satu bukti bahwa sampah plastik, yang selama ini jadi persoalan lingkungan, bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif kalau dikelola dengan teknologi yang tepat.
Persoalan sampah masih jadi tantangan yang perlu terus digarap di Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Lewat seminar ini, mahasiswa KKN UIN Saizu Kelompok 130 mengajak masyarakat setempat membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah, terutama antara sampah organik dan anorganik
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari Kepala Desa Cintakarya, Wawang Darmawan. Ia mengapresiasi kehadiran mahasiswa KKN yang tidak sekadar menjalankan program kerja, tapi juga membawa gagasan dan inovasi dalam merespons persoalan sampah di desanya. “Dari 2019 saya menjabat, baru kali ini ada mahasiswa yang mempunyai inovasi terkait hal ini,” ujar Wawang. Ia berharap kegiatan ini bisa mendorong warga Cintakarya untuk lebih memanfaatkan sampah plastik. Selain membantu mengurangi persoalan sampah, pemanfaatannya juga diharapkan bisa memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat, termasuk membantu mengefisienkan pengeluaran untuk bahan bakar.
Praktik PETASOL di Dusun Sidahurip

Praktik pertama dilaksanakan pada 18 Agustus 2026 pukul 09.00 WIB di TPS Dusun Sidahurip, Desa Cintakarya. Dalam kegiatan tersebut, Nila Zulfiana, mahasiswa KKN UIN Saizu Kelompok 130, memberikan penjelasan sekaligus mempraktikkan secara langsung proses pengolahan sampah plastik menjadi solar melalui metode pirolisis.
Dari diskusi tersebut, para pengurus TPS menyampaikan berbagai harapan dan rencana pengembangan. Pak Jajang berharap adanya kerja sama dengan Bank Sampah Banjarnegara (BSB) agar dapat memperoleh informasi lebih lanjut mengenai jenis plastik yang paling sesuai untuk diolah menjadi bahan bakar, mengetahui apakah warna plastik memengaruhi hasil pirolisis, serta melakukan pengujian untuk mengetahui kadar, kualitas, dan karakteristik solar hasil pirolisis yang dihasilkan dari sampah plastik. Pak Ujang berharap program KKN Kelompok 130 dapat memberikan dampak yang berkelanjutan, Ia mengusulkan adanya bantuan berupa drum besi yang dapat dimodifikasi dan dilas sebagai alat pirolisis dengan kapasitas lebih besar. Menurutnya, penggunaan wadah berukuran kecil membutuhkan waktu, tenaga, dan bahan bakar tungku yang lebih banyak sehingga kurang efisien apabila ingin menghasilkan solar dalam jumlah yang lebih besar. Pengurus TPS lainnya juga menyampaikan harapan agar mahasiswa KKN dapat membantu mengajukan proposal kepada Kementerian Lingkungan Hidup untuk mendukung pengembangan pengelolaan sampah plastik di Desa Cintakarya. Meskipun sebelumnya pernah mengajukan proposal namun belum mendapatkan tindak lanjut, pengurus tetap ingin mencoba kembali sebagai bentuk usaha dan komitmen dalam mengatasi permasalahan sampah.
Praktik PETASOL di Dusun Karangkamulyan

Praktik kedua dilaksanakan pada 19 Agustus 2026 pukul 10.00 WIB di Dusun Karangkamulyan. Masyarakat menunjukkan antusiasme dan berpartisipasi secara langsung dalam melihat proses pengolahan sampah plastik menjadi solar yang dipraktikkan oleh mahasiswa KKN UIN Saizu Kelompok 130 Desa Cintakarya. Antusias warga khususnya bapak-bapak yang hadir, dapat memahami proses tersebut dengan baik, bahkan Ketua RT 07 menyampaikan keinginannya untuk mencoba mempraktikkan proses pengolahan tersebut secara mandiri di rumah kemudian hari.Harapan Keberlanjutan
Menurut Nila Zulfiana, kegiatan PETASOL menjadi tantangan sekaligus pengalaman bagi mahasiswa untuk memahami proses pengolahan sampah plastik secara lebih mendalam dan memastikan program yang dilakukan tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai. Para pengurus TPS dan warga menunjukkan ketertarikan dan melihat adanya peluang untuk di kembangkan di Desa Cintakarya. Ke depan, inovasi ini diharapkan bisa dikelola oleh pemerintah desa, misalnya dengan memanfaatkan fasilitas pengelolaan sampah yang sudah tersedia di tingkat desa. Masyarakat bisa turut berperan dengan mengumpulkan dan menyumbangkan sampah plastik sebagai bahan baku, sementara proses pengelolaannya dikoordinasikan oleh pihak desa. Dengan begitu, inovasi ini diharapkan tidak berhenti setelah mengerti caranya melainkan berkembang jadi bagian dari pengelolaan sampah desa yang berkelanjutan.
“Pemilahan sampah menjadi langkah awal untuk mengolah plastik menjadi sesuatu yang bermanfaat. Melalui PETASOL, kami berharap masyarakat dapat terus memanfaatkan sampah plastik dan mengembangkan pengelolaannya secara berkelanjutan,” jelas Nila.