Foto Bersama seusai Acara Pelatihan
Foto Bersama seusai Acara Pelatihan

Desa Cintakarya (03/15/2017) Pada hari ini dilaksanakan  pelatihan agroforestri dan agroindustri kelapa terpadu berbasis zero waste, menuju pola agroforestri dan agroindustri terpadu ramah lingkungan di hilir DAS Citanduy.

Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementrian Koperasi dan UKM, KPMK, DPKLTS, The Green Coco ISland, Koperasi Mitra Malabar, Lembaga ZAkat Al-Azhar dan Swadaya Petani Indonesia.

Acara akan dilaksanakan selama dua hari, yakni pada tanggal 15-16 Maret 2017. Pada hari pertama, acara dimulai dengan pemaparan seputar produk unggulan agroforestri seperti kelapa, sereh wangi, lebah madu dan peternakan yang disampaikan oleh Bapak Dani dari The Green Coco Island.

Saat ini kondisi perkebunan kelapa di Kabupaten Pangandaran dalam kondisi kritis. Selain luas lahan kebun yang semakin menyusut, pohon-pohon kelapa yang tersisa juga umumnya berusia tua sehingga produktivitasnya rendah.
Penggagas Koperasi Mitra Produsen Kelapa Pangandaran Yohan Wijaya memperkirakan, dari 33 ribu hektare lahan kelapa yang ada, 90 persen dalam kondisi tidak terawat. Kondisi ini, menurut Yohan, merata di seluruh wilayah kabupaten.

“Kebunnya tidak pernah dipupuk, dibersihkan, apalagi diremajakan,” ujar Yohan saat memberikan pelatihan kepada para pelaku usaha kelapa di Desa Cintakarya, Kec. Parigi, Rabu (16/3/2017).Yohan menyampaikan, penurunan produktivitas kelapa saat ini mulai dirasakan para petani. Ia mencontohkan, kebun kelapa yang tahun sebelumnya bisa menghasilkan 1.000 butir kelapa, tahun berikutnya hanya 300 butir saja. Yohan mengaku tidak heran, karena rata-rata usia pohon kelapa di Kabupaten Pangandaran di atas 60 tahun.

Karena dianggap tidak produktif dan tidak menguntungkan, menurut Yohan, terjadi banyak alih fungsi lahan komoditas kelapa ke komoditas lainnya. Sementara pohon kelapa yang tersisa, menurut dia, dibiarkan menua dan lapuk begitu saja.

Melihat kondisi ini, kata Yohan, ia dan sejumlah pelaku usaha kelapa merintis koperasi yang berupaya mengoptimalkan lahan dan produk olahan kelapa. Untuk menunjang kesinambungan usaha kelapa ini, kata dia, pihaknya juga aktif melakukan peremajaan kebun-kebun kelapa.

Pemberdayaan dan Inovasi

Saat ini, kata Yohan, Koperasi Mitra Produsen Kelapa Pangandaran melakukan pendampingan pemberdayaan petani di empat kecamatan dengan luas lahan mencapai 20 hektare. Melalui konsep agroforestry, menurut Yohan, pihaknya mengembangkan pola tanam sela.

Produk utama yang dihasilkan, kata Yohan, adalah tepung kelapa. Saat ini, menurut dia, koperasi yang ia rintis mampu memproduksi 30 ton dalam sebulan, yang disalurkan ke salah satu perusahaan pembuat biskuit.Tak hanya tepung kelapa, ia menjelaskan, nilai tambah juga dihasilkan dengan produk-produk turunan, seperti tali serabut, nata de coco, briket, selai kelapa dan lain-lain.

Kata dia, melalui pola tanam sela, dibudidayakan juga di antara pepohanan kelapa, aneka komoditas, seperti sereh wangi, temulawak, kunyit putih, selada, dan lain-lain.Untuk membangun kekuatan ekonomi rakyat melalui komoditas kelapa, menurut Yohan, memang masyarakat tidak seharusnya menggantungkan diri kepada pemerintah. Namun begitu, menurut dia, bukan berarti tidak ada peran yang bisa diambi pemerintah.

“Kalau pemerintah bergabung, tentu upaya ini lebih cepat. Kalau sulit (anggaran) dari APBD, cukup dengan pendampingan, rekomendasi, perizinan dipermudah, kalau bisa memberi bibit kelapa untuk replanting,” kata dia.
Saat ini, menurut Yohan, Koperasi Mitra Produsen Kelapa Pangandaran, tergabung dalam jaringan komunitas pemulia kelapa seluruh indonesia bernama Green Coco Island. Melalui kelompok tersebut, menurut Yohan, petani kelapa di Kabupaten Pangandaran bekerjasama dan saling mendukung.

Hadir dalam pelatihan, penggagas komunitas Green Coco Island Prof Wisnu Gardjito menyampaikan, potensi kelapa di Kabupaten Pangandaran sangat besar. Sayang, menurut Wisnu, belum cukup upaya menggali potensi tersebut.
“Kelapa itu kami bisa kembangkan menjadi 1600 produk turunan. Sekarang ambil 10 saja yang mudah, sabutnya jadi tali, jadi cocopeat, batoknya jadi arang, asap cair, airnya jadi sirup, nata de coco, dagingnya jadi VCO, sabun, selai,” ujar Wisnu.

Wisnu melanjutkan, dari 10 produk turunan saja, penambahan nilai mencapai 200 persen. Satu butir kelapa yang tadinya hanya bernilai Rp 2 ribu per butir, kata dia, bisa bertambah menjadi Rp 6 ribu. Penambahan nilai tersebut, menurut Wisnh, belum termasuk manfaat dari konsep tanam sela di perkebunan.
Tak hanya menggenjot nilai tambah kelapa, menurut Wisnu, konsep bisnis berbasis masyarakat juga cara efektif untuk mendongkrak kaejahteraan para petani kelapa.

Melalui konsep Agroindustrial Export Cluster (AEC), kata Wisnu, koperasi atau komunitas menjadi unit pemasaran langsung ke pasar luar.
Dengan besarnya potensi kelapa di Kabupaten Pangandaran, Wisnu menyampaikan, pihaknya memilih Kabupaten Pangandaran sebagai titik pengembangan AEC dan komunitas Green Coco Island di Jawa Barat.Saat ini, kata Wisnu, jaringan Green Coco Island tersebar di 33 provisi dan terus melakukan terobosan, baik produk maupun pemasaran.

Pasang

LEAVE A REPLY

Silahkan berikan komentar!
Silahkan masukan nama anda di sini